- Advertisement -spot_img
HomeKabar Desa'Mbubur Sengkolo Ngumbul Dungo' Bentuk Ikhtiar Warga Desa Bumiaji

‘Mbubur Sengkolo Ngumbul Dungo’ Bentuk Ikhtiar Warga Desa Bumiaji

- Advertisement -spot_img

Radar Batu, BATU – Sebagai bentuk ikhtiar ungkapan doa dan memohon keselamatan kepada Tuhan, warga Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji membuat bubur sengkolo.

Bertempat di kantor desa setempat, Selasa (21/12/2021), secara bergantian warga bersama anak-anak dari Sanggar Gubuk Angin mengaduk adonan bubur di wajan berdiamater sekitar 1 meter.

Kegiatan yang diberi nama ‘Mbubur Sengkolo Ngumbul Dungo’ digelar setelah adanya bencana banjir bandang yang meluluhlantahkan beberapa desa yang ada di Kecamatan Bumiaji, tak terkecuali Desa Bumiaji sendiri.

Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto mengatakan secara sederhana bubur sengkolo diyakini masyarakat sebagai penolak bala atau bisa menghindarkan manusia dari kesialan atau bencana.

“Tujuan membuat bubur sengkolo sebagai bentuk ucapan doa dan memohon supaya tidak ada bencana agar masyarakat selalu mendapat berkah kesehatan maupun keselamatan. Bencana banjir bandang kemarin adalah pengingat agar manusia bisa lebih menghargai alam dengan memohon kepada Tuhan,” ujar Edi.

Bubur sengkolo dibungkus takir oleh ibu-ibu untuk diberikan kepada masyarakat setempat. (Ft : asi)

Total ada 2 wajan yang dibuat mengaduk bubur. Setiap wajannya untuk mengaduk 17 kilogram adonan yang dibuat dari beras, santan kelapa, dan gula merah.

“Alasan kami membuat 2 wajan yaitu memiliki filosofi jika di dunia ini ada siang dan malam, wanita dan pria, serta sebagainya. Untuk pembuatan dimulai pada pukul 2 siang hingga 5 sore,” imbuhnya.

Setelah bubur jadi, gantian ibu-ibu yang mengemas bubur ke dalam takir yang nantinya langsung dibagikan kepada masyarakat setempat.

“Sama dengan wajan, takir memiliki filosofi bahasa Jawa yaitu ditoto dan dipikir. Artinya semua harus ditata dan dipikirkan dengan matang-matang atau tidak ngawur, salah satunya merusak hutan hingga terjadi bencana alam,” ujarnya.

Disinggung apakah acara serupa sering kali dilakukan? Edi menjawab bila sudah lama tidak melakukan pembuatan bubur. Untuk itu dirinya bakal menjadwalkan agenda rutin tiap tahun tepatnya kalau perhitungan Jawa di bulan Sapar.

“Ke depan kita rutinkan, nanti kita jadwalkan di masing-masing dusun. Semoga dari kegiatan ini seluruh masyarakat selalu diberi keselamatan dan keberkahan dalam segala hal,” tukasnya. (asi/j)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here